Waspadai Skoliosis pada Buah hati Anda


skoliosisSkoliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping, yang dapat terjadi pada segmen servikal (leher), torakal (dada) maupun lumbal (pinggang). Skloliosis cukup sering terjadi, terutama pada anak perempuan. Sekitar 2-4% anak yang berusia 10-16 tahun mengalami skoliosis. Sekitar 60-80% anak perempuan yang mengalami skoliosis cenderung memberat dan membutuhkan penyangga atau operasi. Parahnya, kebanyakan penderita Skoliosis tidak mengetahui penyebab dari kelainan itu. Namun biasanya beberapa hal yang bisa menyebabkan skoliosis adalah sejenis penyakit seperti Sindrom Down, Distrofi, Sindrom Marfan, Distrofi otot, dan beberapa penyakit lainnya.

Meski 75-85 persen penyebab skoliosis merupakan idiofatik atau kelainan yang tidak diketahui penyebabnya, namun sebanyak 15-25 persen kondisi skoliosis disebabkan oleh beberapa hal seperti:

  1. Faktor Genetik. Kalo ada keluarga yg memiliki riwayat skoliosis, maka anak keturunannya lebih berisiko mengalami skoliosis juga.
  2. Trauma Waktu Kecil. Tingginya aktivitas di masa kanak-kanak hingga membuat anak tersebut terjatuh saat bermain hingga mengalami trauma, bisa menyebabkan skoliosis saat remaja. Pada beberapa remaja, skoliosis kerap diabaikan karena gak ada gejala apa pun yg menyertainya. Tapi kondisi ini akan terlihat dari postur tubuh yg gak proporsional seperti bengkok, miring, dan sebagainya.
    Kondisi skoliosis pada usia remaja patut diwaspadai dan ditangani sejak dini agar penambahan sudut skoliosis yang lebih besar bisa dihindari.
  3. Berada di Satu Posisi Terlalu Lama. Pekerjaan kantor yg menuntut kita untuk duduk berjam-jam dalam posisi yg salah juga bisa menjadi pemicu skoliosis. Apalagi kalo kondisi ini berlangsung dalam hitungan tahun yg mengakibatkan pertumbuhan tulang menjadi gak normal.
  4. Panjang Kaki Kurang Simetris. Saat panjang kaki gak simetris, maka orang yg bersangkutan akan cenderung bertumpu menggunakan kaki yg lebih pendek saat mengangkat beban. Kalo terjadi dalam waktu yg lama, maka bisa mempengaruhi bentuk tulang belakang dan terjadi skoliosis.

Gejala-gejala yang biasa dirasakan atau tampak pada penderita skoliosis antara lain sebagai berikut:

  • Kedua pundak atau bahu kiri dan kanan tidak sama tinggi.
  • Salah satu punggung kiri atau kanan lebih menonjol.
  • Pinggul kiri dan kanan tidak simetris, naik sebelah.
  • Dada kiri atau kanan menonjol sebelah.
  • Posisi berdiri tidak tegak dan lurus.
  • Rasa pegal dan nyeri di bagian leher dan tulang belakang.
  • Kesemutan dan sakit pada tangan.
  • Berkurangnya tenaga pada tangan dalam melakukan aktivitas sehari-sehari seperti membawa tas, mengangkat barang, gelas, payung, dan lain-lain.
  • Rasa nyeri pada tulang belikat.
  • Sering susah bernapas dan mengalami gangguan tidur.

Ada dua metode umum yang sering digunakan untuk mengurangi skoliosis, penjelasannya adalah sebagai berikut:

Penggunaan Brace (Penyangga)

Brace digunakan untuk menyangga tulang belakang yg mengalami skoliosis. Penggunaan brace biasanya direkomendasikan oleh dokter dan gak bisa dibeli secara bebas. Kelemahan metode ini adalah, banyak pasien yg mengeluh karena panas, berat, dan kadang mengalami gatal-gatal akibat iritasi kulit saat mengenakan brace, sehingga hasil penggunaan brace jadi gak maksimal.

Sports Therapy

Alternatif lain untuk mengatasi scoliosis adalah menggunakan metode sports therapy. Sports therapy merupakan metode pengobatan menggunakan latihan terukur bagi penderita scoliosis. Sports therapy biasanya akan diberikan selama 15-20 menit setiap hari dengan pola latihan tertentu.
Menggabungkan sports theraphy dengan penggunaan brace juga biasa dilakukan untuk mempercepat perbaikan tulang punggung pasien.

 

Mencari vitamin anak berkualitas dengan HARGA DISKON?


Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.